JET LAG DAN GANGGUAN OTAK

Redaksi New Jurnalis
0


 

SEBELUM menderita sakit, Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur (kini almarhum) mampu menghafal 2.000 nomor telepon. Mehmed Ali Halici dari Ankara sanggup mengutip 6.666 ayat Al Quran dalam waktu enam jam. Nama lain yang layak disebut adalah Rajan Mahadevan yang bisa meng ingat 31.811 digit dari Pi.

Itulah kehebatan otak. Memang, salah satu pera bot paling spektakuler dari tubuh manusia adalah ke mampuan untuk menyimpan informasi. Tidak mengherankan, sedini apa pun sebuah penelitian tentang otak manusia selalu bisa menarik perhatian. Contohnya adalah apa yang disiarkan oleh kantor berita Reuters (Mei 2001), bahwa otak bisa mengerut kalau sering melintasi kawasan yang perbedaan waktunya besar. Akibat lain adalah mental yang terganggu, termasuk ingatan.Orang yang sering bepergian jauh dan melintasi apa yang disebut sebagai "kawasan waktu yang ber beda" memang mendapat risiko terkena jet lag, yang ditandai dengan rasa lelah, bingung, dan tidur menjadi kacau. Para korban utama jet lag ini tentulah para pilot, awak pesawat, atau pramugari, serta mereka yang begitu sibuk sehingga ulang-alik antara bandara.

Obyek penelitian terbaru ini, diungkap oleh Kwangwook Cho dari Departemen Anatomi Universi tas Bristol, Inggris, memang para pramugari. Ia melibatkan 20 pramugari dari penerbangan internasional, berusia 22 sampai 28 tahun. Sebelumnya ia meneliti bahwa gangguan tersebut kurang berarti pada laki laki, dan karena itu laki-laki tidak menjadi han penelitiannya sekarang.

Menggunakan alat pemindai magnetic resonan ce imaging (MRI), timnya menemukan bahwa daya ingat para pramugari yang mendapat tenggang waktu antar penerbangan lebih singkat lebih terganggu dan kemampuan mengenali abstrak yang sederhana ternyata memburuk. Dr. Robert Sack dari Klinik Gangguan Tidur di Universitas Portland, Amerika Se rikat, melihat temuan ini menunjukkan bahwa jet lag bukan sekadar "gangguan" seperti anggapan umum selama ini. Katanya, "Mungkin konsekuensinya lebih serius."

Konsep kawasan berbeda waktu itu terwujud dalam mekanisme "jam tubuh". Waktu makan siang di London adalah sarapan di New York. Oleh karena itu, seseorang yang terbang melintasi kawasan itu,bagai digojlok. Para penumpang merasa lelah sampai beberapa hari sesudah penerbangan, tetapi tetap terjaga sampai tengah malam berkat kerja hormonal yang memberi isyarat bahwa waktu adalah "pagi".

Jet lag juga bisa mengganggu pencernaan, bahkan mengacaukan jadwal menstruasi. Hal ini terjadi ka lau orang terbang dari timur ke barat. Penerbangan dari utara ke selatan berlangsung di dalam kawasan waktu yang sama dan karena itu tidak menimbulkan jet lag.

Menurut Nature Science Update, kunci masalah nya terletak pada hormon kortisol. Kalau terserang demam, mengejar bus, atau bahkan selagi jatuh cinta, tubuh manusia mengeluarkan kortisol. Tingkat kortisol yang tinggi di pagi hari mengiringi kita melewati sepanjang hari, tetapi pasokan ini terbuang ketika tubuh menyongsong malam.

Jet lag yang sudah parah bisa ibarat membuka keran kortisol. Inilah dasar dari temuan tim yang Cho. Dengan itu, tubuh tidak bisa memberi isyarat apakah saatnya malam atau siang dan tidak memproduksi hormon tersebut seperti seharusnya.

Charalambos Kyriacou dari Universitas Leicester, Inggris, yang meneliti irama tubuh, mengatakan bah wa jet lag memang mengacaukan "jam tubuh" di otak. Otak kemudian mengirimkan sinyal, misalnya dengan menaikkan tingkat kortisol, untuk menyesuaikan diri. Masalahnya, tuturnya, "Otak menyesuaikan dengan cepat, dan bagian tubuh lain lebih lambat.




Post a Comment

0 Comments
Post a Comment (0)